Thursday, June 9, 2011

PUNCAK KECERDASAN SPIRITUAL

Tulisan itu begitu jelas berbunyi, “Parkir khusus bagi yang berbelanja di toko X.” Sementara tempat parkir di toko Y yang kami tuju penuh. Memang begitulah kenyata-annya. Dari sederet toko yang menjual oleh-oleh pilihan kami, toko Y lah yang paling banyak dikunjungi pembeli.

Saya perhatikan setiap toko menjual produk sama. Setidaknya oleh-oleh yang kami cari ada di setiap toko di sana. Dan bukan tidak mungkin rasa dan kualitas jajanan di toko X lebih baik dari pada di toko Y maupun yang lainnya. Namun yang menarik untuk kita renungkan adalah Kenya-taan bahwa toko Y lah yang paling banyak diserbu pembeli.

Sepintas, terutama bagi orang awam, fenomena tersebut sama sekali tidak menarik untuk dibahas. Namun, wahai pembaca yang budiman, saya mengundang Anda untuk mening-galkan sejenak pola pikir awam, menuju strata berpikir sedikit lebih tinggi.

Ditinjau dari sudut pandang akademis, sederet alasan logis telah berulang kali kita dengar tentang mengapa toko Y lebih laris disbanding yang lain. Praktis, para pengamat akademis yang mempro-klamirkan dirinya sebagai kaum cendekiawan itu rata-rata memiliki alasan hamper sama, yaitu bahwa toko Y lebih ramai dikunjungi karena sang empunya memiliki kemampuan entrepre-neurial lebih tinggi dibanding yang lain.

Bagi kaum akademisi yang telah terdoktrin oleh konsep barat dalam menganalisa setiap fenomena kehidupan, sangat tidak mudah memahami bahwa sesungguhnya manusia tidak bias menciptakan amalannya sendiri. Manusia hanyalah merasa bahwa dirinyalah yang mencip-takan semua ide entrepre-neurial itu.

Kita tak lebih dari produk ciptaan Allah SWT. Mana mungkin sebuah produk mencip-takan program atau software untuk dirinya sendiri. Jelaslah bahwa yang bisa mencip-takan program kerja bagi manusia ya sang penciptanya. Keperkasaan-Nya lah yang menjadikan kita sulit menyadari bahwa ide itu ciptaan Allah.

Hikmah dari cerita ini, menurut saya, adalah sebuah pemahaman bagi manusia yang memiliki kecerdasan spiritual ekstra tinggi, bahwa toko Y lebih laris disbanding yang lain semata-mata karena Allah memu-tuskan demikian. Dan bahwa fenomena itu hanyalah salah satu dari bukti bahwa setisp manusia memiliki riwayat hidup berbeda satu sama lain.

Tak satu pun manusia memiliki riwayat hidup sama dengan yang lain, bahkan si kembar sekali pun. Seribu manusia seribu riwayat hidup. Sejuta manusia sejuta riwayat hidup. Satu milyar manusia satu milyar riwayat hidup. Maka, lucu, bodoh, dan konyol rasanya jika manusia menyom-bongkan dirinya atas yang lain karena merasa memiliki kelebihan disbanding orang lain. Bukankah ide cemerlang itu prestasi Allah? Mengapa dianggap prestasi manusia? (Wasi Darmolono)

No comments:

Post a Comment