Wednesday, November 11, 2009

BELAJAR DARI BANK CENTURY

Hukum polaritas yang pernah dipopulerkan oleh Gerry Robert dan penulis best seller Wasi Darmolono melalui buku dasyatnya WINNING MINDSET, terasa nyata kebenarannya jika dipelajari melalui kasus bank Century.

Kedua penulis besar di atas mendefinisikan hukum polaritas sebagai suatu ujud kenyataan bahwa Allah menciptakan mahluk sekaligus fenomena kehidupan-Nya berpasang-pasangan, ada pria ada wanita, ada siang ada malam, ada suka ada duka, dan seterusnya.

Hukum itu berlaku universal dan dialami oleh siapa saja bagaimana pun keadaannya. Suka dan duka, misalnya, berlaku pada apa pun strata sosial ekonomi seseorang. Sebagai contoh di sini adalah fenomena nasabah bank Century.

Besar tabungan deposito mereka berbeda satu sama lain, bervariasi mulai dari puluhan juta hingga milyaran rupiah. Beberapa yang saya ketahui adalah ada yang memiliki tabungan sebesar dua ratus juta, enam ratus juta, dua miliar, dan ada yang delapan miliar rupiah. Semuanya tidak bisa ditarik pemiliknya.

Yang menjadi pertanyaan, mana yang lebih stress, pemilik tabungan dua ratus juta rupian atau si pemilik tabungan delapan miliar? Jawaban yang pasti adalah keduanya, bahkan semua nasabah menderita stress yang sama, karena uang tersebut adalah satu-satunya yang mereka miliki.

Thursday, October 1, 2009

MENCARI PEDOMAN

Ketika saya menanyakan tentang keengganannya datang ke masjid, tanpa beban tetangga sebelah rumah itu menjawab, “Lha wong mereka yang berbuat jahat, korupsi, selingkuh, kawin- cerai, menyalah-gunakan wewenang saja orang Islam yang sudah dianggap bisa dipercaya, kok saya disuruh- suruh mengaji dan menganut agama Islam, jangan- jangan mental saya malah rusak seperti mereka atau bahkan lebih parah. Mendingan saya seperti ini saja tidak perlu ke masjid, yang penting bagi saya adalah tidak pernah berbuat jahat pada pada orang lain. Saya lebih percaya ajaran orang jawa seperti sopo gawe nganggo, becik ketitik ala ketara, dan lain-lain.”

Di lain kesempatan, saya rumah kawan yang beribadah sekadar gugur kewajiban artinya hanya menjalankan yang wajib- wajib saja. Dan setelah kemudian saya tanyakan alasan ia enggan menjalankan ibadah sunnah, dengan entengnya menjawab, “Sementara ini, yang penting tidak masuk neraka saja dulu. Bukankah sunnah itu artinya jika tidak dijalankan tidak berdosa?” Telusur punya telusur, ternyata pengetahuan yang ia dapatkan sebatas ketika belajar di sekolah formal. Di luar itu, selepas pendidikan SMTA- nya tak pernah mendapat ilmu agama lagi. Dari pengamatan saya, pemeluk agama Islam seperti orang tersebut memiliki prosentase terbesar di negeri ini.

Pernah juga, pada suatu hari di bulan ramadhan, tak sengaja seorang teman laki-laki kedapatan merokok di siang hari, menandakan bahwa ia tidak men- jalankan puasa wajib di bulan suci tersebut. Spontan ia menyampaikan alasan mengapa tidak berpuasa lantaran berasumsi bakal saya pertanyakan ketidak- puasanya itu. “Tadi malam saya sahur, tapi pagi ini kepala saya terasa pusing seperti masuk angin. Akhirnya saya putuskan tidak puasa saja.” Jawabnya dengan terbata- bata karena kesulitan mencari dalih yang tepat. Sedikit pun tak ia sadari bahwa apa pun alasan yang ia lontarkan tak mempengaruhi se- dikit pun dugaan saya tentang alasan mengapa ia tidak berpuasa. Lha wong dulu saya juga begitu, ha .. ha .. ha.

Terlepas dari keaneka-ragaman sikap terhadap agama (Islam), satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa ketiga kolega yang saya jumpai di atas menginginkan hidup bahagia. Sebagian masyarakat memang menganggap bahwa kebahagiaan tidak akan pernah dicapai jika mereka terikat dengan peraturan tertentu. Namun, bagi sebagian yang lain, terutama yang telah menemukan pedoman hidup yang mantap (Islam) justru berpendapat sebaliknya. Mereka merasa bersyukur telah mendapatkan petunjuk (hidayah) dan menganggap betapa tak beruntungnya mereka yang tidak bersegera mencari pedoman hidup. Dan saya pun termasuk satu dari mereka yang ikut merasa prihatin terhadap ketidak-mengertian mereka akan indahnya hidup dalam keimanan. Hal inilah yang menjadikan saya sangat setuju bahwa kita wajib mendakwahkan agama (Islam) kepada mereka. Alangkah tidak fairnya kita jika setelah mendapat pencerahan dari orang lain kemudian tidak melanjutkan estafet dakwah ini kepada orang-orang yang belum paham.

Sekali lagi, wahai pembaca yang budiman, saya ingatkan bahwa yang membe- dakan kita dengan mahluk lainnya adalah akal untuk berpikir tentang penciptaan kehidupan. Kita hanyalah mahluk ciptaan yang tak pernah memiliki kuasa atas diri kita sendiri. Pernahkah kita memesan agar lahir dimana, dari rahim siapa, kapan dan sampai kapan kita hidup. Ketidak kuasaan atas diri kita sendiri itulah yang meyakinkan saya bahwa manusia tidak memiliki kapasitas untuk mengatur dirinya sendiri. Dan memang benar adanya bahwa sei- ring dengan penciptaan kehidupan ini, Allah juga menciptakan ketentuan dan hukum-hukum yang harus diindahkan oleh seluruh mahluk-Nya.

Sabagai mahluk sosial, manusia memiliki naluri saling membutuhkan satu sama lainnya sehingga kehidupan bersama yang merupakan fitrah hidup seluruh ciptaan Allah tak bisa terelakkan. Dalam rangka menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat, kesepakatan- kesepakatan untuk mengatur kehidupan bersama pun menjadi kebutuhan mutlak bagi mereka, sehingga berawal dari inisiatif orang bijak pada masanya terbentuklah peraturan hidup yang secara akademis disebut sebagai agama. Sebagian besar masyarakat pada masa masing- masing meyakini bahwa agama tersebut datangnya dari Tuhan pen- cipta alam. Karena peradaban belum memungkinkan manusia membangun komunitas luas, setiap area dengan batas teretorial tertentu memiliki agama sendiri yang diyakini turun dari Tuhan melalui figur yang memiliki otoritas pada suatu masa yang sebagian diantaranya menjadi agama dari generasi ke generasi berikutnya. Shinto bagi bangsa Jepang, misalnya, dianggap agama yang turun dari sang pencipta melalui seorang Kaisar yang dianggap sebagai wakil Tuhan di dunia dan setiap keturunan laki-laki sulungnya ditetapkannya sebagai imam atau pemimpin spiritual selama masa hidupnya setelah diangkat melalui upacara ritual yang berlaku. Contoh lain yang serupa adalah agama Budha, Hindu, Konghucu, dan sebagainya.

Indonesia, karena berupa negara kepulauan, secara geografis tidak cukup memudahkan manusia untuk berkoloni secara luas sehingga setiap pulau berdiri suku- suku yang juga memiliki agama yang mereka yakini sebagai pedoman hidup terbaik bagi masyarakatnya.

Namun, karena pada kenyataannya agama-agama tersebut belum bisa melan- dasi semua aspek kehidupan, kesulitan menghadapi masalah kehidupan pun masih sering dialami para penganutnya sehingga pencarian pedoman yang bisa menyelesaikan setiap masalah kehidupan menjadi impian bagi pencari kebenaran haqiqi.

Akhirnya, alhamdulillah kita harus bersyukur, pencarian kebenaran haq itu telah kita dapatkan di dalam ajaran agama Islam. Dan setelah dipelajari seca- ra seksama, ternyata Islamlah agama yang mengatur hingga seluruh detail kehidupan baik yang termaktub di dalam kitab suci al Qur’an maupun yang tertuang di dalam kitab al Hadits yang dipahami sebagaimana para sahabat yang hidup pada masa Rasulullah SAW memahaminya. Dan semua itu dengan mudah kita akses ilmunya melalui berbagai buku, ustadz, maupun para ulama yang mengikhlaskan seluruh kehidupannya untu kepentingan sabilillah.

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agamamu ... (QS. Al Maidah 3)